BAD INFLUENCERS, ANTITESIS PENDIDIKAN KARAKTER

By | April 11, 2021

Hai Guys, Lama banget nih udah gak posting.

Di Segmen Artikel ini aku tuh mau ngeshare keresahan pribadi aja soal BAD INFLUENCERS, ANTITESIS PENDIDIKAN KARAKTER yang mungkin kalian yang membaca judul dari artikel ini juga nantinya ada yang setuju dan sepemikiran samaku.

Berbicara Soal Influencer / Public Figure nih, Tentunya Kalian pasti Tau Sosok Youtuber Legend Indonesia Yang katanya Konten Kreator Terbesar Se-Asia Tenggara dengan Nama Atta Halilintar, Dengan subscribers rata-rata remaja usia sekolah, Atta Halilintar menayangkan video malam pertama.

teukuraja.com
Photo by: pikiran-rakyat.com

Lima juta penonton dalam tempo 24 jam. Tentu tidak ada konten p*rno karna (platform youtbe melarangnya), tapi ini menambah dosis baru dalam asupan kebodohan yang sudah terlalu lama dicekokkan kepada generasi muda kita. Atta, dan banyak youtuber dengan tipe konten serupa, berada di kotak yang sama dengan sinetron, infotainment gosip, hingga gerakan agama yang puritan radikal, mereka semua Bad Influencers, pembawa pengaruh buruk.

Aku yang notabene nya Masyarakat biasa yang tergolong anak komplek, sudah 1 tahun ini mengajak ngobrol anak-anak dan generasi muda komplek yang mengaku menjadi subscriber Atta. Rata-rata mereka mengaku hanya ikut-ikutan tren, seperti yang kalian duga. Yang disukai anak-anak ini dari channel Atta diantaranya konten prank, pamer mobil mahal, pamer keseharian yang bergelimang kemewahan, dan ucapan “asiyaaap” yang menjadi trademarknya.

Pendeknya, Atta adalah perpanjangan dari sinetron. Ia menghadirkan bukti bahwa kebodohan fiktif bisa menjadi nyata. Dan untuk jasa itu generasi muda kita atau mungkin anak-anak kalian menimbunnya dengan uang. Dalam sesi obrolan dengan anak-anak ini, saya mendapati bahwa mereka tidak mengerti bagaimana alurnya sehingga subscribe dan jempol mereka bisa menjadi uang buat Atta. Saat dijelaskan, merekapun mulai berpikir, mulai bisa menangkap ketidakadilan di hadapannya.

Orang tuanya banting tulang untuk membelikan pulsa mereka, lalu mereka habiskan untuk menonton channel Atta sambil tidak mendapat manfaat apa-apa selain mengikuti tren, hanya untuk bisa nyambung dengan apa yang dibicarakan teman-temannya, hanya untuk menjadi pengikut. Sambil kehilangan waktu untuk belajar dan kreatif. Tiap tipe konten Atta dibahas dalam obrolan itu.

Tentang prank, Aku menjelaskan bahwa itu bentuk bullying, hal yang sedang diperangi di lingkungan sekolah di seluruh dunia. Tentang pamer kekayaan, digalinya aspirasi anak-anak didik kalau teman pamer kekayaan, bagaimana perasaan mereka? Ternyata tidak senang. Lalu mengapa senang saat dipameri orang lain lewat layar internet ??..

Pamer kekayaan adalah konsep Vanity. Ini konsep yang sukar diterjemahkan dalam bahasa kita, sebab dalam budaya kita belum ada karsa untuk mengatai fenomena itu. Terjemahan yang biasa dipakai untuk vanity adalah “kefanaan”. Namun ini jauh dari akurat. Yang paling dekat adalah “pamer kekayaan”, tapi inipun baru sebagian. Kata dasar dari Vanity adalah “vain”, artinya kosong, hampa, sia-sia.

Maka vanity adalah sikap kesia-siaan, kekosongan, sikap mementingkan kulit tanpa peduli isi. Pencitraan adalah tindakannya, vanity adalah sifatnya. Ironis, ini karakter paling mendasar dari bangsa kita, namun kita tidak punya nama untuknya. Sesi obrolan itu diakhiri dengan langkah konkret, yang saya dukung lahir-batin. 75 % Anak Anak dan Pemuda Pemudi yang aku ajak Ngobrol tanpa Ba-bi-bu Langsung Berinisiatif untuk unsubscribe channel Atta, Kalau bisa jangan tonton lagi, Kalau masih terasa berat, tonton saja, tapi jangan subscribe, Habis nonton, jangan lupa unlike, Jempol turun.

Menurut aku, Atta boleh kaya dari mana saja, tapi jangan dari orang-orang terdekat kita. Aku, Sedikit banyaknya Mempelajari Filsafat, Psikologi dan Pemahaman Mental untuk, mengajak Adik-Adikku, Keluarga, Teman atau anak-anak Komplek menyelami nalar mereka sendiri, perasaan mereka sendiri, merangsang dan Menstimulus kepekaan sosial, lalu membimbing mereka mengambil tindakan nyata.

Ini solusi. Inilah pendidikan karakter. Guru-guru se-Indonesia perlu mengambil langkah remedial yang dicontohkan di atas. Ini langkah awal.. Masih panjang daftar influencer di platform vlog yang setipe dengan Atta, yang harus menjadi target selanjutnya. Mereka adalah antitesis Pendidikan Karakter. Penghambat, penggagal, kasarnya adalah hama bagi Pendidikan Karakter.

Hukum tidak bisa melarang orang menjual kebodohan. Caveat emptor : Salah beli, salah sendiri. Satu-satunya yang mampu memberantas hama ini, hanya sekolah, Aku tau dengan Artikel ini aku kemungkinan akan di hujat Habis-Habisan, Di teror Mati-Matian, atau bahkan di Ancam di Polisikan, Ini Lebih baik buat ku daripada aku tertekan melihat Beranda Berita dari Media yang Terus-Terusan seperti Ikut Membodohi Pembacanya.

Disclaimerku untuk Artikel ini, Bukan Soal Menyebar Kebencian, Menyudutkan Pihak Tertentu atau Bermaksud Radikal dengan Target Seorang Influencer yg “HARUSNYA” Menjadi Contoh yang baik untuk Pengikutnya, Artikel ini juga bukan persoalan Iri – Dengki yang Akan Di tuduhkan oleh Penyembah Atta Halilintar ke Aku dan bukan Juga Bermaksud “Su’udzon” Karenanya, juga aku sadar dengan Artikel ini akan ada yang Mengatakan “Buang Buruknya, Ambil Baiknya” Karena mungkin sudah Terlanjur Fanatik dan Termakan Ideologi Modernitas yang salah di Pahami Generasi Millenial Sekarang, Sesuatu Yang baik takkan di dapat dari Hal Buruk jika Formula dan Nilai dasar Kebaikan itu sendiri Menjadi Ambiguitas dari Fiksi yang di berikan Seorang Influencer Kelas nasional yang berkedok Inspirasi dan di Pasangi Topeng Reality yang dia Miliki.

Semua Orang Juga tau kalau Atta Halilintar Mendapatkan Semua itu Dari Usaha dan Effort dia Sendiri, tapi ini yang di salah pahami oleh Generasi kita yang termakan Rayuan Durjana Bentuk Kesuksesan dari Slogan “Ahsiyaapp” yang Merajai Trending Kosa Kata yang akan Mungkin Mengganggu Kestabilan KBBI Yang selama ini Ter-Manage dengan Rapi seperti kata Anjay yang “Nyaris” Memasuki Portal KBBI..

Kesuksesan yang menjadi Miskonsepsi karena Di Luar Kontekstual Ranah Pemikiran Naluri atas Realita Perjuangan yang sebenarnya. Dari Hal ini, Gak Banyak Korban Anak-Anak yang ingin Menjadi Seperti Influencer yang di Idolakan nya tapi Mereka tidak mampu dan bahkan Memaksa diri atau Orang tua Mereka.

Daily Vlog Sampah menjadi Konsumsi Pribadi atas Alasan Inspirasi menjadi Bukan Mimpi (Lagi) yang di khawatirkan akan Menjadi Penyebab Gantung diri, Bagi aku ini Sebuah Dilema Pilihan Untuk kita yang sadar akan Dunia Tipu – Tipu, Kau tonton Aku, Suksesku akan Menujumu. Lalu kau bilang aku dan Artikel ku sebagai Bentuk dari Panjat Sosialku kepada Tuhanmu Atta Halilintar ??. Aku hanya Melampiaskan Keresahan yang terjadi, Melebarkan Sayap-Sayap Kesadaran diri, dan Mengibarkan Panji-Panji Kemerdekaan Nalar dan Naluri. Dari Sini aku hanya Bermaksud Menabuh Genderang Perang untuk Mematikan Akar dari ketidaksadaran (Awareness) Bangsa dan Generasi kita nanti nya.

Tentunya, aku atau Kalian mungkin Merasakan Perasaan yang sama dalam Hal ini, Aku Hanya melakukan Prinsip aku sendiri yang mana itu “Do it Something Little if U can’t do Something Bigger”..

Kalau memang seluruh isi dunia gak setuju dengan kita, kita bisa apa kalau gak bersemangat untuk Ngelawan nya, termasuk Ngelawan yang namanya kebodohan itu sendiri, Karena kalau bukan di mulai dari kita ya siapa lagi ??.

Terima Kasih untuk kalian yang meluangkan waktu membaca keresahan aku yang telah muak aku pendam, dari sini aku hanya belajar untuk tidak menjadi Seseorang yang Mengajarkan “Vanity” ke Orang-Orang terdekat dan Sekitar aku nantinya.

Referensi Tambahan oleh : Fritz Hariyadi
Photo by: pikiran-rakyat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *