Calon Sarjana, Ketika Kreator Menjadi Predator !

Hallo Guys, kembali lagi di blog Gue di Teuku Raja dot Com, Nah.. Kemarin Gue sempet sedikit kaget dan shock mendengar berita yang satu ini.
Gue Nulis Ini Dimana Sedang Hangat-Hangatnya di Kabarkan bahwa salah satu Channel Youtube Indonesia Terbesar kedapatan Memplagiat Konten Youtuber Luar negeri Hingga Mencapai Ratusan Video. Wow, gila sih..
Memang dalam dunia Digital creative, Konten kreator kerap kali di apresiasi dengan reward yang tinggi dari berbagai perusahaan publisher iklan seperti Google Adsense dan lain-lain, Sehingga hal ini banyak menarik minat kreatif kalangan muda-mudi untuk membuat konten digital seperti menjadi blogger, podcaster, youtuber, film maker dan lainnya.

Kok bisa sih Channel Youtube sebesar Calon Sarjana yang telah memiliki 12 Juta Lebih Subscribers bisa Meng-copy Paste Konten Milik Orang lain hingga melewati 100 Video, apa sebabnya dan apa juga dampaknya ?, belum ada yang tau tentang misteri ini..
Tapi kali ini Yang kita bahas adalah apa yang terjadi dengan Channel tersebut mulai dari HAKI atau Hak Kekayaan Intelektual adalah hak yang timbul atas hasil olah pikir otak manusia yang menghasilkan suatu produk
atau proses yang berguna untuk manusia.

Nah, Secara umum dapat dikatakan bahwa obyek rule diatur dalam HAKI adalah karya-karya rule timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia. Dan karena itu cuy ada yang berpendapat bahwa hak-hak tersebut digolongkan ke dalam hak-hak atas barang yang tak berwujud atau intangible. Analoginya adalah jika ide-ide tersebut keluar dari fikiran manusia dan menjelma dalam suatu ciptaan kesusasteraan, ilmu pengetahuan, dan lain-lain, maka menjadi benda berwujud (tangible) dan dapat menjadi sumber keuntungan.

Digolongkannya hak-hak tersebut ke dalam hukum harta kebendaan adalah karena hak-hak tersebut memililki sifat-sifat hak-hak kebendaan dan dapat dimiliki secara absolut (hak mutlak).
Ciri utamanya adalah hak itu bisa dijual, dilisensikan, diwariskan, di pindah tangankan dan lain-lain layaknya hak kebendaan lainnya. Intinya, hak-hak tersebut dapat dipindahtangankan kepemiilikannya berdasarkan alasan sah dari peraturan yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.

Dari sinilah ciri khas HAKI sebagai hak privat (private rights). Seseorang bebas untuk mengajukan permohonan atau mendaftarkan karya
intelektualnya atau tidak. Hak eksklusif yang diberikan Negara kepada individu pelaku HAKI (inventor, pencipta, pendesain dan sebagainya) tiada lain dimaksudkan sebagai penghargaan atas hasil karya (kreativitas)nya
dan agar orang lain terangsang untuk dapat lebih lanjut mengembangkannya lagi, sehingga dengan sistem HKI tersebut kepentingan masyarakat ditentukan melalui mekanisme pasar.
Lalu Kenapa Channel Calon Sarjana Bisa di bilang tidak paham mengenai hal ini ??.

Secara Pribadi Gue gak bisa Nge-Judge alasan Konkrit dari mereka, cuman yang jadi pendapat Gue adalah, apakah Channel Mereka di Motori Oleh Perusahaan Kreative tertentu atau Memang Kalangan dari circle mereka sendiri atau memang Channel tersebut di bangun secara Individual oleh Seorang Konten Kreator pada Platform Media Sosial Youtube, siapa yang tau ??

Jujur, gue pribadi cukup terinspirasi oleh Channel Calon Sarjana dan Kecewa banget setelah mendengar kabar ini, Yang Awalnya gue mengira jika Konten Counter seperti itu dapat memberikan dampak informative bagi kalangan orang yang haus informasi kayak gue, hehehe..
Tapi, balik lagi Ada beberapa teori perlindungan hak kekayaan intelektual seperti teori reward, teori recovery, teori incentive, dan teori risk. Menurut teori reward (penghargaan), pencipta atau penemu yang menghasilkan ciptaan atau penemuan harus dilindungi dan harus diberi penghargaan atas hasil jerih payahnya menghasilkan penemuan atau ciptaan. Kemudian menurut teori recovery, pencipta atau penemu yang menghasilkan ciptaan atau penemuan dengan mengeluarkan tenaga, waktu dan biaya harus diberi kesempatan untuk meraih kembali apa yang telah ia keluarkan tersebut.

Next menurut teori incentive yang menyebutkan bahwa dalam rangka untuk menarik minat, upaya dan dana bagi pelaksanaan dan pengembangan kreativitas penemuan, serta menghasilkan sesuatu yang baru, diperlukan adanya suatu incenitive agar dapat memacu kegiatankegiatan penelitian dapat terjadi lagi.
Sedangkan menurut teori risk (resiko) menyatakan bahwa kekayaan intelektual merupakan hasil karya rule mengandung resiko, sehingga adalah wajar untuk memberi perlindungan kepada kegiatan yang mengandung resiko tersebut.
Dari teori-teori tersebut di atas dapat dipahami bahwa dasar filosofis perlindungan HAKI sangat dipengaruhi oleh mazhab hukum alam yang menekankan pada faktor manusia dan penggunaan akal. Berdasarkan pemikiran tersebut Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) diakui sebagai hasil kreasi dari pekerjaan dengan memakai kemampuan intelektual manusia.

Dengan demikian pribadi rule menghasilkannya mendapat hak kepemilikannya secara alamiah (natural acquisition).
Dalam Peraturan sistem hukum di Romawi cara perolehan hak sedemikian itu didasarkan atas asas “suum cuique tribuere”, yang menjamin benda yang diperoleh adalah kepunyaan orang tersebut. hukum bertindak lebih jauh dan menjamin bagi setiap penguasaan dan penikmatan eksklusif atas benda ciptaannya tersebut dengan bantuan negara.

Sebenarnya untuk membuat sebuah karya yang memang niat Serupa tapi Tak Sama mudah-mudah saja tanpa merugikan siapapun karena dasar Niat TERINSPIRASI, namun dalam hal ini gue pribadi berpikir jika Channel Sebesar Calon Sarjana tidak dapat Berpikir Bijak Mengenai Hal ini, Padahal Sejatinya Kretifitas dapat di improve dan di edit semenarik mungkin jauh dari Konten Asli nya dengan Versi yang beda dan juga dapat di kemas dengan menarik.
Sangat Lucu sekali jika Channel Besar yang telah mencapai Jutaan Subscribers Harus Kalah dengan Konten Kreator Yang Masih Ratusan Ribu Subscribers, sehingga dengan ini Negara kita tak dapat di percaya oleh negara lain dalam promosi dan publikasi Konten Original dalam Ruang Lingkup Kreatifitas.

Nah Guys, Semoga Kita Semua Sebagai Konten Kreator dari berbagai platform dapat mengerti penuh dengan informasi tentang hak cipta dan dapat lebih menghargai hasil jerih payah pihak-pihak yang telah meluangkan waktu dan effort yang totallitasnya dalam membuat konten sehingga kita dapat terhindar dari label Predator konten Original Milik Orang Lain..

*Sumber Gambar: GGWP.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RELATED POST

Apa Itu Web FrontEnd ?

Pengembangan web front-end Pengembangan Web FrontEnd, juga dikenal sebagai pembangunan sisi klien adalah praktek memproduksi HTML , CSS dan JavaScript…